MILAH, Polesan Ketabahan Dalam Diam

 

Bagiku ritual mengelus dada adalah sebuah gerakan pasti tanpa sugesti yang biasa kulakukan bila telinga ini sudah dijejali dengan curhatan Milah. Kenapa yang namanya ketentraman, keadilan, ketenangan, dan semua jenis kosakata yang punya arti ‘nyaman’ seolah merupakan keadaan yang sulit dicapai dalam riuh rendah hidupnya yang bila kujabarkan mungkin mirip pendakian seorang Soe Hok Gie ke puncak Merbabu, meski aku tak berharap (sama sekali tak berharap) bahwa kisah Milah akan ditutup oleh kematian mirip seperti jurnalis ‘agak melek’ politik yang tercatat sebagai mahasiswa UI di akhir dekade 60-an itu. Tapi sungguh, Milah bagiku telah terpigura dalam potret ketabahan luarbiasa. Bagaimana tidak, ia telah berhasil meyakinkan dirinya untuk tidak sakit hati, padahal selama hampir 27 tahun sebenarnya ia sangat sangat sakit, sakit triple di hatinya, pikirannya, dan badannya. Entah pinjaman kekuatan darimana yang berhasil digondolnya untuk senantiasa membisiki jiwanya yang bernanah luka dengan kata “Ishbir..ishbir..”

Aku kerap merenung di penghujung malam, gelisah memikirkan keadaan sahabatku yang usianya terpaut hampir 30 puluh tahun dariku itu, hingga terkadang aku lupa berwudhu sebelum tidur karna aku telah lebih dulu jatuh tertidur dalam pengembaraan kekhawatiranku. Milah, apa kabarmu kini?

*****

Jika embun jatuh dan terkadang tak sempat menyampaikan isyarat cintanya pada tanah karena angin pagi telah lebih dulu menguapkannya menjadi udara bebas, maka lebih baik seperti itu saja ending story dari bongkahan cinta yang selalu diuji dengan candaan dilema hidup. Bagi Milah mencintai tak ubahnya menelan gula yang telah larut dalam secangkir teh yang tersedia dan diseruput olehnya tiap hari di waktu istirahat pertama. Ia selalu merasakannya, manis, tapi tiap kali itu juga perasaannya akan tertelan, hilang melanglang di dasar hatinya yang berkerak dan dingin.

“Apa yang terjadi dengan suami Anda, bu Milah?”

Milah membetulkan letak kacamatanya yang sedikit bergeser dan menatap lurus sahabat mengajar yang agak tau perangai suaminya.

“Gak ada apa-apa kok Bu Sur, salah paham saja,” Milah mencoba menarik halus bibirnya, meski yang tersembul adalah sebaris senyum yang tampak dipaksakan.

Gebrakan keras di mejanya kemarin sore bukan penutup bagi senam jantungnya, sederet tuduhan telah mendamprat telinga Milah. Semuanya tersembur lancar dari laki-laki yang telah dipercaya menjadi penjaganya sepanjang hayat. Bukan salahnya jika ternyata Pak Diki yang merupakan partner kerja satu sekolah kebetulan lewat depan kontrakan dan secepat kilat menggendong Gian, bayi Milah, yang entah mengapa terguling di pelataran rumah. Kejadian gendong-menggendong itu telah memantik kecemburuan sang suami yang saat itu bersiap keluar rumah untuk jalan-jalan sore. Saat mengetahui anak lelakinya digendong penuh kasih oleh pria lain yang menaruh hati pada istrinya sebelum mereka menikah, maka seketika itu ia merebut Gian dan meletakkannya di ranjang dan kembali ke pelataran untuk mengusir Pak Diki dengan kasar. Tanpa pikir panjang, lelaki pengangguran itu menjenguk istrinya yang bersiap pulang dari sekolah untuk memuntahkan umpatan dan caci maki yang penuh tuduhan. Sesaat Milah tersadar dari dampratan suaminya, ke mana gerangan si bibi penjaga? Mengapa ia tega membiarkan Gian berguling di pelataran rumah?

Yang terjadi berikutnya adalah Milah berusaha menarik suaminya pergi dari ruang guru sembari menghindari tatapan selidik dan iba dari rekan-rekan seprofesinya. Biar saja hati dan pipinya lebam, asal ia masih bisa menyelamatkan martabatnya sebagai guru cerdas dan cekatan. Sepasang suami istri itu berjalan saling berjauhan. Tanpa memandang, tanpa komunikasi. Sang suami nafasnya tersengal, sementara sang istri tertunduk lesu.

****

            Sebuah renungan : Islam sebagai sebuah pandangan hidup yang sempurna dan paripurna telah meletakkan martabat dan kehormatan seorang wanita pada tempat yang tinggi, hingga syurga seorang anak lelakipun berada di keikhlasan seorang ibu. Sesuai dengan sabda kekasihNya “Al jannatu tahta aqdamil ummahati”. Wanita telah dijamin akan syurga dengan seperangkat amalan yang disiapkan untuk meraih itu. Menjadi ibu, pengayom rumah tangga, pendidik ummat merupakan sederet kewajiban yang berbuah jannah jika saja tiap muslimah mau menjalankan itu dengan maksimal, dengan ketundukan. Namun job description yang terkesan ‘ndeso’ dan ‘sederhana’ itu disalahartikan oleh kaum liberal dan feminis dengan membumbuinya sebagai pekerjaan orang-orang yang tersubordinasi dan termarginalkan. Dari siapa? Dari kaum pria tentunya. Aqidah kapitalisme yang berpijak dari pondasi “Fasluddin ‘anil hayah” (memisahkan agama dari kehidupan) telah menelurkan kaum-kaum intelek yang sama sekali tak mau terikat dengan aturan agama dalam kehidupan umum, apapun bentuknya. Sayang, pola pikir dan pola sikap seperti ini justru ditiru dan diamalkan oleh sebagian besar kaum muslim yang harusnya mereka bersandar pada syariat islam dalam semua urusan. Termasuk dalam peranan dan perbedaan pembagian tugas pria dan wanita, banyak muslim yang meragukan kesetaraan dua kaum satu spesies ini hanya bisa diraih dengan ketaqwaan pada Penciptanya. Padahal untuk mencapai ketaqwaan itu bermuara pada amalan yang tak selalu sama.

Akhirnya sikap tak PEDE dengan ajaran Allah inipun membuahkan sekelompok muslimah yang menginginkan kebebasan dan kesetaraan dengan pria dalam ranah publik, terutama dalam masalah karier. Dan keinginan kuat dari para wanita untuk berkarya dalam pekerjaan demi memenuhi kebutuhan telah membuat sebagian pria (suami) merasa nyaman. NYAMAN YANG KEBABLASAN, hingga mereka terlena dan akhirnya lupa pada kewajibannya untuk menafkahi keluarga. Anak-anak tumbuh dalam buaian pengasuh, jauh dari didikan ibu yang tergenang tsaqofah islam. Mereka tumbuh menjadi generasi sakit, kurang perhatian, dan terabaikan. Remaja-remaja ini terpenuhi materi namun gersang dalam hati. Tak mungkin berharap dan mempercayakan estafet kejayaan peradaban pada manusia yang tak sinkron akal dan hatinya. Ini  merupakan lingkaran setan yang mengerikan. Semua terlahir dari keraguan muslim akan kesempurnaan islam dan pengambilan ide/pemikiran dari luar islam. Permasalahan mendasar yang juga membutuhkan solusi radikal.

****

            Milah mengenakan pakaian dinas barunya. Sebuah rok, blazer lengan panjang dan sebuah kerudung. Belum sempurna pakaian yang akan mengawali niat perubahannya di pagi hari medio September itu, belum seperti apa yang diserukan oleh Pemilik Arsy dalam surat cintaNya di Surat An-Nuur ayat 31 dan Al Ahzab 59. Yah, aku berusaha, dan inilah usaha dari prosesku menuju kesempurnaan pengabdian, itu dalam batinnya. Meski kelak ia pasti akan mentransformasi penampilannya dengan balutan jilbab (gamis) dan kerudung lebar.

Milah menatap buah hatinya dengan gamang, ia telah menemukan pengasuh baru yang tampak lebih muda –dan tentu saja lebih santun- dari seorang bibi penjaga sebelum ini. Gamang karena ia belum percaya sepenuhnya dengan orang baru yang akan diserahi untuk merawat buah hatinya seharian selama ia mengajar. Namun apa boleh buat, ketimbang ia harus memasrahkan Gian pada ayah biologisnya yang memiliki emosi tinggi jauh mengangkangi rasionalitas manusia normal, maka lebih baik Gian berada dalam timangan seorang wanita yang lebih pengertian. Ya, begitu saja.

Seorang wanita gemuk dengan rambut ikal tergerai tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu saat Milah telah siap menuju sekolah.

“Mbak Ningsih..?”

Wanita itu adalah kakak kandung suaminya, terlihat pasi dan kebingungan.

“Dek Milah, bisa bantu saya..?”

Lalu menderaslah sebuah cerita tentang hidupnya yang terlilit kekurangan, sesekali ia sesenggukan meratapi kesulitannya menjalani hidup seorang diri tanpa suami, ia melap ingusnya berkali-kali seolah menafikkan fakta bahwa adiknya merupakan malapetaka terbesar yang pernah didapat Milah. Namun bukan Milah jika tak mampu memaafkan, meski beberapa minggu lalu wanita ini pernah menipu dirinya dengan sepanci penuh daging rendang yang susah payah dibelinya dengan 1/5 gajinya 1 bulan. Yah, kini dengan modal barter sebuah oven kue, maka Milah menyerahkan beberapa lembar uang puluhan ribu untuk kakak tirinya itu. Ini artinya ia harus mengoptimalisasi perahan ASI untuk Gian karena anggaran susu formulanya telah hilang sampai dua bulan ke depan.

Sore itu ia pulang dan menyadari sebuah oven telah bertengger di atas meja dapurnya.

“Ibu beli dari Bu Ningsih ya oven ini?” Mbak Mur, pengasuh Gian yang baru bertanya sambil menyuapi Gian dengan pisang ambon.

Milah tersenyum pertanda mengiyakan pertanyaan itu. Alis Mbak Mur terangkat,

“Wealah Bu, tadi saya sudah meriksa ovennya. Tempat loyangnya itu sudah keropos loh, gak kuat lagi buat menyangga loyang. Tutup ovennya juga sudah nda bisa dipasang lagi. Mau-maunya ibu beli oven rusak, kalo beli di toko kan dapet yang bagus Bu..”

Pernyataan Mbak Mur sedikit menerbitkan air mata di hatinya, ini berarti kali kedua Mbak Ningsih menipunya. Mengapa niat tulusnya selalu disepak dengan kebohongan? Bila memang butuh uang dan berniat meminjam, tak bisakah keinginan itu disampaikan tanpa dihiasi dengan kisah barter oven yang penuh penipuan? Hidup berjarak ratusan mil dari orang tua, membuat Milah menjadikan Allah dan air mata sebagai sandaran kokoh tiap kali duka mengombang-ambingkan tubuhnya.

****

            Suaminya, Mas Kardi, telah pergi lebih dari lima hari. Ucapan terakhir yang sempat dititipkan lelaki itu untuknya adalah bahwa ia akan berusaha mencari pekerjaan dengan membangun kontak bersama kenalan-kenalan lamanya. Hanya itu yang ia dengar, setelahnya hari-hari Milah terlewati tanpa kabar dari Mas Kardi. Semua lenyap dibawa pergi mirip debu yang didekap angin kencang penutup tahun yang melanda daerah pesisir pantai Jawa Timur. Di era akhir 80an itu belum ada alat komunikasi berupa telepon genggam, sehingga melacak keberadaan suaminya tak bisa dilakukan dengan cepat dan on-time.

Milah begitu penat. Bertemu dengan puluhan anak SMP dan membangun hubungan intelektualitas dengan mereka merupakan sebuah aktivitas yang menyenangkan. Meski ketika jam 3 sore Milah kembali ke rumah, ia sadar bahwa kesenangannya mengajar telah menguras habis energinya hari itu, ditambah jika keadaan rumah tangga dan hubungan tak sehatnya dengan saudara-saudara suaminya merupakan sebuah realitas yang memaksa Milah tak bisa menenangkan pikiran.

Bukan sekali Mbak Ningsih, Mbak Ina, Mbak Oyik dan beberapa kerabat suaminya bertandang ke rumah dan meledeknya sebagai istri yang tak pandai menyenangkan suami, karena hingga dua minggu kepergiannya, Mas Kardi belum menampakkan tanda-tanda akan pulang. Entah perkataan seperti apa yang selama ini dilantunkan Mas Kardi di depan keluarga besarnya, hingga mereka yang dulu begitu mengelukan Milah sebagai wanita cerdas dan berpendidikan kini menganggap ia tak ubahnya seperti wanita tak ada guna. Tak bisa Milah membela dirinya, pernah hal itu dilakukannya sekali, dan tak ada keluarga yang berpindah ke sisinya. Semua menyalahkan dan menganggap ucapan Milah sebagai omong-kosong. Hidup berdekatan dengan keluarga suami yang begitu menujukkan sikap tak menerima, membuat berat badan Milah turun dengan sukses. Ia tak perlu ahli gizi untuk mendampinginya dalam sebuah program diet. Semua tetek bengek permasalahan adalah obat pencahar yang solutif untuk penghilang lemak dalam tubuhnya.

****

            Sawah adalah sahabat karib bagi anak-anak petani. Di rimbunnya batang padi mereka sering berebutan memungut belalang yang dagingnya terasa begitu gurih saat dibakar. Di sela-sela lumpur yang kehitaman sering bergerombol keluarga keong mas yang bisa dijadikan jajan penambal perut mereka yang belum kenyang meski sudah makan siang. Yah segempal nasi dan sepotong bakwan yang dibagi rata untuk lima orang bukan pengisi perut yang sempurna bukan? Itulah sebabnya beberapa bocah yang rambutnya merah mirip rambut jagung dan hidung nya berkerak karena ingus yang mengering, begitu girang jika orang tua mereka membebaskan satu sore untuk bermain di sawah, bebas dari perintah mengangkut batu kali (sungai) dan memecahnya untuk kemudian dijual ke mandor bahan bangunan.

Sore itu, awan mendung menjadi selimut tebal di cakrawala jingga yang mulai kelabu. Empat orang anak perempuan menggenggam daun genjer yang tumbuh liar di tepi sawah. Perburuan belalang dan keong mas tak mungkin lagi bisa dilakukan, menilik cuaca yang tak bersahabat. Saat kristal hujan akhirnya rebah ke bumi, keempat bocah itu berlarian dan saling berpamitan sebelum akhirnya menuju rumah masing-masing.

Milah membuka pintu kayu rumahnya dan dengan bangga mengangkat seikat genjer sambil melompat-lompat. Itu artinya ia dan kesembilan anggota keluarganya (termasuk ayah ibunya) akan punya lauk tambahan untuk makan malam selain nasi dan garam. Kakak lelaki dan perempuannya tersenyum, haru dengan semangat Milah mencari genjer. Milah adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara, sebenarnya ia merupakan putri keduabelas, namun lima saudaranya meninggal akibat penyakit tak sanggup terobati karena mahalnya biaya.

“Bu, Milah pengin kuliah di Jogja kalo udah lulus SMA”

Semua mata mengarah pada Milah di meja elips kayu yang sudah berlubang sana-sini pada makan malam itu, kemudian semuanya tersenyum. Senyum mereka diartikan sebagai sebuah pengiyaan oleh Milah, padahal orang tua dan kakaknya menghadirkan senyuman sebagai tanda pasrah dan bertujuan untuk menenangkan keinginan membuncah seorang bocah SD. Mereka berharap Milah akan memupuskan sendiri keinginannya itu jika kelak ia sudah besar dan bisa melihat realita keluarganya yang tak jauh dari kemelaratan. Apa yang bisa diharapkan dari penghasilan ayahnya yang cuma penambal ban dan pemilik sawah tak seberapa lebar? Nyaris tak ada. Punya beras yang bisa ditanak untuk hari ini saja merupakan sebuah karunia Allah yang tak berhingga.

-to be continued-

Perempuan yang Menjaring Duka

 

“Ngomong Mas, ngomong !!!”, matanya terendam basah, tak kuasa Meta menahan air mata agar tetap pada tempatnya. Yang diajaknya bicara terus bungkam, tak berniat berubah pikiran untuk memberikan ketenangan pada wanita yang tengah dipunggunginya. Sebenarnya hatinya berdesir mendengar suara yang mengharu biru itu, tapi nalurinya berhasil meyakinkannya untuk tetap diam.

“Mas, tolong… Jangan tinggalin Meta seperti ini. Mas….”, isakannya percuma. Tangisnya sia-sia. Hingga dua polisi membimbing lelaki itu masuk mobil patroli, ia tak mau bicara. Ia biarkan wanita berkerudung itu melihatnya pergi dengan tanda tanya yang entah kapan mampu dijawabnya.

Mobil patroli itu berlalu. Air mata Meta belum kering. Yang berkerumun di situ mulai berbisik sinis, menguak harmoni sumbang yang menyesak ke telinga Meta. Tapi perempuan itu tak peduli. Raganya terasa mati. Bagamana tidak ?! Lelaki pendiam yang sangat dicintainya sembilan tahun ini baru saja pergi. Dengan tidak terhormat pula… Dengan borgol yang menyegel mati dua tangannya, lelaki itu sama sekali tak membiarkan Meta tahu mengapa aparat mesti membawanya pergi.

*******

Siang itu udara pekat dengan debu dan asap. Ditambah lagi matahari samasekali tak malu unjuk diri di atas sana. Sebuah sedan hitam metalik berplat merah berhenti di halaman parkir toko perhiasan ekslusif. Dua lelaki turun. Yang satu berdasi dan berpakaian rapi dengan mata tak henti memandang lurus bangunan yang ada di hadapannya. Tatapannya kaku, tak bisa dialihkan lagi. Sedang lelaki yang satunya memakai celana jeans dan kaos, menghadap temannya dengan alis naik penuh tanda tanya.

“Mau ngapain sih Pras ? Emang Lu gak ada kerjaan di kantor ?”

Lelaki berdasi yang ditanya hanya tersenyum tipis. Dia melangkah pasti memasuki bangunan itu, ingin diikuti. Yang bertanya makin heran dan terpaksa mengekor temannya itu. Ada-ada aja, desisnya…

“Mau yang ini, Pak ?”, sang pramuniaga bertanya setelah si pembeli yakin dengan pilihannya.

“Ya, yang ini”, jawabnya pasti. “ Tolong dibungkus ”, lelaki berpakaian rapi tersenyum lebar pada temannya yang serasa ingin mati berdiri.

“Wah.. gila Lu Pras!! Lu punya cewe simpenan ??”, ia mengusap dada melihat ulah temannya.

“Pras..Pras.. dua puluh tahun kerja juga gue gak mampu beli deh!”

******

 

Meta menangis di atas sajadahnya. Matanya kuyu dengan lingkaran hitam di sekitarnya, pertanda wanita itu kurang tidur dan banyak menangis. Dadanya masih terus naik turun, penuh sesak dengan perasaan kecewa dan marah. Sungguh ia tak mengerti Mas Pras, apa yang merasuki hingga imam keluarganya itu tergoda melakukan korupsi. Angkanya pun fantastis, 10 Miliar ! Pengadilan menjatuhkan 7 tahun penjara untuknya. Desahan nafasnya makin keras, rasanya tak cukup lagi tempat di hatinya untuk menampung lara.

Dialihkan pandangannya ke sofa. Seorang gadis mungil delapan tahun terbaring kelelahan di sana. Meta tahu Alfafa pasti sangat tertekan. Di awal penangkapan ayahnya ia harus merasa kehilangan, lalu wartawan yang ditemuinya berjubel di depan rumah tiap ia keluar membuatnya sangat ketakutan. Belum lagi pandangan teman-teman sekolahnya yang mengucilkan dan menjulukinya, ANAK SANG KORUPTOR. Cukup sudah yang dirasakan putri kecilnya.

“Pokoknya aku sudah menggunakan uang itu untuk keperluan yang pantas”

Cuma itu yang dikatakan Mas Pras tiap Meta bertanya dikemanakan uang haram itu. Awalnya Meta tak lelah menanyai suaminya tentang hal itu di hari-hari kunjungannya. Tapi lalu Meta berada pada satu keadaan dimana dirinya tak bisa lagi tahan dengan semua ini. Sikap diam suaminya telah membuat kekecewaan Meta makin menjadi. Lelaki yang hampir sepuluh tahun lalu mengirimkan biodatanya pada Bapak sebagai langkah awal untuk meminta Meta menjadi pendampingnya, lelaki yang mengiyakan janjinya untuk selalu taat pada Allah sebagai syarat farji yang diminta Meta di depan penghulu, lelaki yang membuat Meta menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan hidup yang ditawarkan padanya. Lelaki itu kini berada lurus di depannya dengan rahang kaku. Itu meyakinkan Meta bahwa memang Mas Pras tak bisa lagi menunaikan janji farjinya. Sudah tak bisa. Dan sebuah ucapan keluar dari bibir Meta setelah tahajud panjang di tengah kepayahannya.

“Ceraikan saya Mas”

Lelaki yang biasanya tertunduk tiap Meta datang menjenguknya, mengangkat muka kali ini. Dilihatnya wanita anggun dalam balutan jilbab dan kerudung yang ada di hadapannya. Wanita itu tak lagi terisak. Sorot matanya masih sayu dan penuh kecewa, tapi ia juga menangkap kesungguhan terpancar dari sana. Kesungguhan yang tak mungkin bisa ditolaknya walau ia sangat sangat tidak ingin mengatakannya.

“Meski sudah pisah, apa aku boleh menjenguk Alfafa kalau aku bebas nanti ?”

“Tentu. Alfafa anakmu juga”

Meta menatap tajam pada lelaki itu. Sebenarnya ia berharap lelaki itu mau berubah pikiran dengan mengatakan untuk apa ia gunakan 10 miliar itu. Tapi harapannya seperti menggarami air laut. Meta berdiri, meyakinkan dirinya untuk tak lagi meratap. Apapun yang terjadi, ia hanya tahu itulah yang diisyaratkan Allah usai doanya.

“Saya akan urus ini secepatnya, Mas. Assalammualaikum”

******

Meta merapikan buku-bukunya. Tinggal barang itu yang masih tersisa. Pakaiannya sudah ia kirim ke rumah ibu beberapa hari lalu. Ya apalagi yang bisa ia bawa dari rumah suaminya itu. Tak ada banyak barang di rumah mungil itu selain TV, kulkas, mesin cuci, rice cooker dan perabotan pecah belah. Memang kesederhanaan yang menjadi gaya hidup Mas Pras sejak ia pertama mengenalnya. Dan gaya hidup itu samasekali tak berubah meski di tahun keenam pernikahannya, Mas Pras diangkat menjadi anggota MPR. Mas Pras sangat jujur, Meta tahu betul itu. Ia tahu suaminya tak pernah mengambil selain gaji pokok pegawainya, jika ada uang lebih meskipun itu halal, Mas Pras lebih senang membagikannya kepada anak-anak di bawah kolong jembatan yang dilaluinya sepulang kerja.

Tapi korupsi yang dilakukan suaminya, telah merubah penilaian Meta terhadap lelaki yang dihormatinya itu. Entah untuk apa dan kenapa Mas Pras melakukannya, yang jelas Meta sudah sangat lelah menanyakannya. Tapi ada satu hal yang Meta yakini hingga mengantarkan pernikahannya pada perceraian adalah perbuatan baik apapun yang dilakukan dengan cara haram, tetap haram di mata Allah. Apapun yang dilakukan Mas Pras dengan uang itu, Meta tetap tak akan bisa menerima alasannya.

Meta mendorong dus-dus yang berisi bukunya ke luar pintu. Ia tak mau lagi tinggal di rumah itu, meski sebenarnya ia turut membantu Mas Pras membeli rumah itu dengan penghasilannya sebagai pengusaha jilbab. Meta ingin tinggal di rumah Ibu, meski itu artinya ia harus memulai semuanya dari awal. Tapi pasti itu akan terasa ringan dengan Alfafa di sisinya. Perlahan dikuncinya pintu rumah kenangan itu. Meta menyembunyikan kunci di balik rimbunnya tanaman pot. Mas Angga, sahabat baik mantan suaminya, akan mengantarkan kunci itu pada pemiliknya di penjara sore nanti.

*****

Jannatin Alfafa. Sebuah taman rimbun di syurga. Putrinya itu bukan lagi bocah delapan tahun yang masih suka menjerit dan mengelap ingusnya dengan lengan baju. Ia sudah lima belas tahun sekarang. Sudah besar dan jelita. Makin ayu dengan kerudung lebar menutup dada dan jilbab di tiap penampilannya. Sekarang buah hatinya itu tengah terisak di dada seorang lelaki yang selalu dinantinya bisa hadir melihat ia tumbuh dewasa.

“Abi..Alfa kangen banget sama Abi”, ucapnya terisak menahan haru.
Meta tak ingin larut, tapi kristal bening tetap saja turun membasahi kerudungnya. Padahal ia benar-benar tak menginginkannya. Lelaki yang dipeluk Alfafa memandang lurus ke arah Meta. Pipinya tirus, matanya cekung. Tapi hitungan tahun tak bisa melekangkan sorot mata penuh cinta itu. Mas Pras masih sama.

Pras menemui Meta dan putrinya tanpa banyak berkata. Mereka bertiga menikmati hangatnya canda dalam diam. Alfafa dengan senyum lebarnya. Pras dengan sorot penuh kasihnya. Sedang Meta dengan alis berkerut penuh tanya. Ya, Meta masih selalu menyodorkan ekspresi muka itu pada Pras. Seolah menuntut jawaban dari pertanyaan yang belum bisa dijawabnya, Kau kemanakan uang haram itu Mas? Tapi lagi-lagi diam yang menjadi cara komunikasi mereka. Dan akhirnya Meta menyerah tanpa meloloskan pertanyaan itu dari bibirnya.

*******

Mas Angga duduk di hadapan Meta dengan bahu lunglai. Sudah setengah jam Meta menanti sosok itu bicara. Sosok yang dulu dikenal Meta sebagai sahabat karib Mas Pras. Entah mengapa lelaki ini tiba-tiba datang ke butik jilbabnya.

“Mas Angga, ada apa ?”, Meta mulai gemas menahan ketidaksabarannya. Dia risih karena hanya duduk berdua dengan lelaki yang bukan mahramnya, tapi laki-laki itu tak bisa membaca kegelisahan Meta.

“Lu tau kan Pras udah bebas sebulan lalu ?”

“Ya, saya tau. Kemarin-kemarin Mas Pras juga datang menjenguk Alfafa.”

“Yang bener ? Pras ngomong apaan ?”, keingintahuan terpancar dari sorot mata lelaki itu, membuat Meta dipenuhi tanda tanya.

“Gak banyak yang kami bicarakan. Tapi Mas Pras lebih sering ngomong sama Alfafa, bukan sama saya.”

“Ohhh…”, bahu lelaki itu lunglai lagi.

“Ada apa sih Mas?”, Meta menegakkan punggungnya.

“Pras gak ngomong soal duit korupsi itu ya Met ?”

Alis Meta terangkat. Ada apa ini ? Sudah ratusan hari Meta tenggelamkan dirinya dalam kesibukan agar ia lupa satu hal yang memang belum terpecahkan itu. Dan pertanyaan Mas Angga barusan menyadarkan Meta bahwa sebenarnya ia belum bisa lupa dengan masalah itu. Masih merasa kecewa dan marah jika mengingat nominal uang haram itu.

“Mas Pras gak ngomong masalah itu. Ah udahlah Mas, mungkin benar kata orang-orang kalo Mas Pras memberikan uang itu untuk wanita lain dalam kehidupan pernikahan kami dulu”, Meta mencoba menghilangkan kecewanya yang membuncah.

“Gak Meta, Pras bukan laki-laki brengsek macam itu. Gue tau bener dia. Sejak dia ngeliat Lu di Islamic Book Fair gak ada wanita lain yang Pras cinta sampai saat ini…”

Sampai saat ini… entah kenapa kata-kata begitu indah mengalun di telinga Meta. Andai ia masih remaja seperti dua puluh tahun lalu, ingin rasanya ia berguling-guling di lantai saat ini juga. Tapi Meta sadar siapa dirinya sekarang, meski tak dipungkirinya kata-kata itu membuat pipinya merona.

“Terus kalo bukan itu, berarti untuk apa lagi ? Sampai sekarang kan gak ada orang yang tau ke mana Mas Pras menghabiskan uang itu”. Meta ingat, bahkan pada polisi yang menginterogasinya saat itupun Mas Pras tetap tidak mau mengatakan kemana uang itu ia belanjakan. Hal itu membuat Meta yakin bahwa tak ada satu orangpun yang tau perihal 10 miliar itu.

“Gue tahu Meta. Gue tahu Pras pake uang itu buat apaan !”

Kata-kata Mas Angga membuat Meta berdiri tiba-tiba. Wanita itu kaget minta ampun. Ternyata jawaban pertanyaan yang tujuh tahun ini menghantuinya tersimpan rapi di balik bibir Mas Angga. Meta tak percaya, mulutnya terbuka beberapa saat lamanya.

“Maaf Meta, bukan elu aja yang gelisah. Tujuh tahun ini gue juga tersiksa. Tapi Pras selalu mohon biar gue gak cerita ke siapapun termasuk ke elu. Dia selalu mohon sambil nangis, jadi gue gak mungkin bisa nolak”, Mas Angga mulai terisak. Tergambar kegelisahan yang disimpan lelaki itu hampir sama seperti kecewa yang juga dipendam Meta, “Maafin gue Met..Tapi sekarang gue gak peduli. Lu harus tau Met.”

“Terus…uang itu dipake Mas Pras untuk apa ?”, terbata Meta bertanya menahan kecemasan yang dirasakannya sampai ke ubun-ubun kepala. Meta bersiap untuk apapun jawaban yang akan dipaparkan Mas Angga.

“Met, Lu tau kan Pras tu orang gak punya, dia sederhana banget. Gue tau dia sejak kecil. Meski dah jadi Master trus kepilih jadi anggota MPR, Pras tetep jadi orang yang jujur en sederhana kan”, ucapannya Mas Angga membuat Meta hampir mati penasaran.

“Iya Mas, saya ngerti. Sekarang Mas kasih tau langsung aja!!”, Meta meremas ujung kerudungnya.

“Makanya gue bilang dulu Met. Pras ngerasa dia gak pernah ngebahagian elu, karena selama nikah dia gak pernah ngasih elu apa-apa.”

Ya, Meta tau itu. Sembilan tahun menikah memang tak ada benda apapun yang diberikan Mas Pras untuknya selain perabotan rumah tangga. Kejujuran lelaki itu membuat pendapatannya tak memungkinkan mereka hidup berfoya-foya. Tapi…

“Kalung itu Met. 10 miliar itu dia pake buat beli kalung itu. Dulu dia minta gue nemenin waktu beli.”

Meta yang sedari tadi berdiri dengan tubuh mengejang, tiba-tiba jatuh terduduk. Lunglai. Sendinya lemah. Matanya banjir. Perlahan diraba lehernya, tempat dimana uang 10 miliar itu bersarang hingga kini. Dulu dikiranya itu hanya kalung perak dengan batu putih indah memenuhi tiap detilnya, hadiah yang Mas Pras beri untuk hari jadinya yang ke-31.

“Itu berlian Kalimantan terbaik Met, mata kalungnya tu intan yang diimpor langsung dari Afrika. Untuk kalung itu dan harapan bisa ngebahagiain elu, Pras rela ngabisin waktunya di penjara.”

Angga melihat Meta dengan mata yang basah, pasti itu menyakitkan tapi Meta harus tahu bahwa Pras begitu mencintainya sampai jalan yang dipilihnya salah. Lamat isakan Angga melemah, berganti dengan jeritan tangis Meta yang pilu dan dalam. Bahka angin pun serasa berhenti sesaat untuk mengusap derita di batinnya…

DETAK PENANTIAN 84 BULAN

 

 

Syifa ketakutan, tubuhnya menggigil tak karuan. Gadis itu takut jika apa yang berkecamuk di hatinya benar-benar menjadi kenyataan. Dia mengenggam untaian Edelweiss itu, keringat di telapak tangannya membasahi batang bunga yang telah lama mengering. Dia terus meremas bunga itu sambil sesekali berbisik perlahan. Tidak mungkin lelaki itu yang datang. Ia telah pergi tujuh tahun lalu, meninggalkan Syifa dalam balutan kecewa yang mendalam.

Syifa berlari kencang menembus malam, genangan air sisa hujan yang diterjangnya membuat jilbab dan sepatunya basah. Gadis itu terus berlari, berharap menemukan sosok yang masih tersimpan indah di ujung hatinya. Tak ada siapapun di jalanan itu, hanya ranting pohon yang terus meneteskan sisa hujan petang tadi. Syifa berhenti dengan nafas tersengal, dadanya sesak dan mukanya mulai pucat. Ia yakin melihat lelaki itu di jalanan ini tadi, saat ia mengajak mahasiswi di tempat kuliahnya dulu untuk menghadiri kajian rutin di Masjid Ar-Ridwan. Namun keraguan di hatinya membuat gadis itu tak menghiraukan apa yang diihatnya. Ia tetap berjalan mendampingi adik-adiknya menuju masjid. Dan seikat edelweiss yang ia temukan di dekat sepatunya, mau tak mau menepis kebimbangannya. Tali dari benang wol merah jambu yang mengikat bunga gunung itu menjadi bukti bahwa lelaki itu telah kembali.

*******

Syifa sering melihat laki-laki itu melewati depan rumah kosnya, tubuhnya kurus dan tinggi, lehernya jenjang, kulitnya putih. Syifa juga sering melihatnya sedang bermain basket atau takraw di lapangan kampus, namun Syifa lebih suka menunggu lelaki itu melewati kosnya. Syifa yakin perut lelaki itu telah penuh terisi makanan, karena ia tau lelaki itu makan di kedai makanan yang tak jauh dari kosnya. Dia bintangnya olahraga bola, baik itu bola voli, bola basket, bola sepak ataupun bola takraw. Sore itu Syifa melihat lelaki itu berjalan perlahan dengan tumpukan bulletin di tangannya, ia menghampiri tiap mahasiswa yang berada tak jauh darinya seraya memberikan kertas-kertas itu. Saat mereka berpapasan, lelaki itu menghindari keberadaan Syifa dengan menundukkan wajahnya, namun tidak bagi Syifa, gadis itu tetap menatapnya lekat tanpa berkata-kata. Hanya semburat jingga warna pipinya yang menjadi tanda bahwa Syifa tidak mampu menahan deburan dan gemuruh hatinya.

Muhammad Zulfikar namanya. Dia orang Bugis, kuliah di jurusan Oseanografi. Dan usia lelaki itu setahun lebih muda darinya. Tak apa.. batin Syifa. Ia terus menghafal biodata lelaki itu, di kantin, di musholla, di tempat tidur walau hanya sebatas nama dan usia yang ia tau. Syifa tau lelaki itu aktivis islam, ia sering melihatnya berorasi saat ada aksi mahasiswa. Dengan ikat kepala hitam bertuliskan kalimat syahadat berwarna putih, lelaki itu terus membara menyuarakan tentang khilafah, islam ideologis, penerapan syariah dan hal-hal lain yang sebenarnya Syifa tidak tau apa artinya. Toh Syifa tetap dengan setia mengikuti orasinya sampai selesai. Syifa bagai anak angsa hilang di tengah kerumunan ayam, bagaimana tidak, yang menghadiri aksi seperti itu adalah akhwat sholehah dengan gamis dan kerudung lebar,deretan depan juga diisi dengan ikhwan-ikhwan yang tak pernah dilihatnya di acara kongkow-kongkow anak kampus. Sedangkan Syifa, lihatlah, ia mengikuti aksi-aksi itu dengan celana jeans dan kaos casual ketat membalut tubuhnya, kerudungnya pun tidak sempurna menjadi hijab bagi kepala dan dadanya. Tapi Syifa tak peduli meski deretan akhwat itu tersenyum berulang-ulang ke arahnya. Bukan senyuman sinis atau merendahkan memang, mungkin lebih karena mereka bingung melihat sekretaris utama BEM kampus hadir di acara seperti itu.

Entah lelaki itu merasakan kehadirannya atau tidak, Syifa tak terlalu memikirkannya. Gadis manis itu tetap rajin datang ke lapangan kampus tiap sore untuk melihat lelaki itu bermain basket atau olahraga yang lain, Syifa juga kerap merebut bulletin dari tangan teman-teman lelaki di kampusnya setelah lelaki itu membagikannya kepada mereka, atau tetap menunggu di depan kosnya setelah waktu makan tiba. Sore itu Syifa terdiam di depan masjid kampus, ia ragu untuk melangkahkan kakinya ke dalam. Dia sudah melepas sepatunya namun laporan kegiatan diksar kampus yang belum selesai diketiknya membuat Syifa mengurungkan niat untuk menghadiri kajian mingguan di masjid itu. Tiba-tiba sebuah tangan meraih lembut lengannya, seorang gadis bergamis coklat dengan kerudung lebar berwarna caramel tersenyum manis ke arahnya. Syifa menatap dua bola mata yang indah dari gadis yang ada di hadapannya, sinar matanya begitu teduh dan membuat Syifa enggan beranjak dari tempat itu.

“Ayo masuk, kajiannya sudah hampir mulai loh. Syifa Alfalila jurusan Geodesi kan, kenalkan saya Meridian dari THP”, ujarnya sambil mengulurkan tangan.

Syifa menyambut keramahan gadis itu dengan senyuman yang manis pula. Mereka sama-sama masuk ke masjid untuk mengikuti kajian itu. Syifa tertegun saat mendengar suara pembuka acara, ia yakin pemilik suara itu adalah lelaki yang rajin berorasi di aksi-aksi yang sering diikutinya. Ia hanya tersenyum, hatinya bersorak girang karena baru kali ini Syifa bisa mengikuti acara kajian dimana lelaki itu selalu hadir. Meridian juga tersenyum ke arah Syifa, entah gadis itu bisa menebak perasaan Syifa atau tidak, yang jelas ia tersenyum sambil  menggenggam tangan Syifa kuat.

Meridian sering datang ke rumah kos Syifa sejak saat itu. Ternyata gadis berkacamata itu lebih tua dua tahun darinya. Lama-kelamaan Syifa merasa sangat dekat dengannya. Ia selalu memberi Syifa selembar bulletin yang sama seperti yang diedarkan lelaki itu. Meridian selalu datang dan membantu Syifa tanpa pernah ia minta. Ia membantu Syifa mengetik laporan kegiatan-kegiatan kampus, mencari artikel untuk bahan presentasinya, dan tentu menjadi pendengar setia Syifa saat bercerita tentang lelaki itu. Tanpa pernah Syifa sadari, Meridian telah bayak memasukkan ide dan membuat kacamata berfikir Syifa tentang hidup berubah. Syifa mulai jarang berkumpul dengan teman-teman nongkrongnya di sekretariat BEM kecuali memang ia sangat dibutuhkan. Syifa juga tak pernah lagi mengenakan celana jeans dan kaos ketatnya, sekarang ia lebih suka mengenakan rok dan blus lebar. Dan perubahan-perubahan lain tampak pada dirinya seiring dengan pemahamannya akan ajaran yang telah ia peluk sejak kecil namun tak pernah ia pahami lebih daripada sekedar perintah shalat, puasa, zakat, dan naik haji.

Lelaki itu masih sering dilihatnya melewati depan kosnya, namun Syifa hanya menarik nafas perlahan sambil berusaha menyingkirkan pandangan matanya dari arah jalan. Namun toh Syifa sering berlari tergopoh-gopoh menuju ruang depan kos karena ternyata ia tak tahan ingin melihat lelaki itu, meski pada akhirnya hanya punggungnyalah yang terlihat. Ternyata ia belum mampu menjaga matanya untuk makhluk yang satu itu. Meridian bilang itu syahwat mata.

Sudah enam bulan Meridian menjadi musyrifah Syifa, mereka rajin mendatangi tempat kos satu sama lain untuk mengkaji islam. Selama itu pula Syifa berusaha tak mengingat lelaki itu, meski sebenarnya ia tak bisa. Syifa tak mau niatnya untuk berubah menjadi lebih baik terkotori dengan rasa cintanya pada lelaki itu. Syifa tak pernah lagi datang ke lapangan kampus saat lelaki itu berolahraga, gadis itu juga tak memperhatikan jika ia berpapasan dengan lelaki itu di jalan. Sulit ternyata, tapi Syifa yakin ia bisa.

Dua minggu menjelang hari wisudanya, Meridian memintanya membantu pembuatan proposal acara outbond untuk ikhwan angkatan baru. Ia yang sudah kenyang dengan pekerjaan itu selama menjadi sekretaris BEM, segera mengetik susunan kegiatan itu dengan lancar. Gunung Gede, 24-26 Desember 2004, ia mengeja tempat dan tanggal outbond. Dan saat membaca ketua pelaksana kegiatan itu Syifa harus menelan ludah. Muhammad Zulfikar, susah payah ia mengetik nama itu. Hitungan dua belas bulan ternyata tak mengikis keindahan sosok itu dalam pandangan Syifa. Tapi ia tak mau lebur dalam perasaannya sendiri, Syifa segera mencetak lembaran proposal itu dan memberikannya pada Meridian, kakak, sahabat  sekaligus guru ngajinya tercinta. Meridian tersenyum saat menerima proposal itu dari Syifa,

“Semangat! Wisuda kita sebentar lagi”, bisiknya pada Syifa.

Hari wisuda tiba. Syifa berada di tengah uraian canda sahabat-sahabatnya, mereka semua tersenyum lepas, seolah satu beban hidup telah tercabut dari pundak mereka. Namun tidak bagi Syifa, ia merasa kegamangan dan kekalutan luarbiasa menyelimuti dirinya. Wajahnya yang putih makin terlihat pucat dalam balutan jilbabnya yang berwarna biru tua. Ia tahu hari itu akan memisahkan dirinya dengan lelaki itu. Meridian menghampiri Syifa, senyumnya terkembang. Mereka berpelukan hingga airmata penuh menutupi raut muka keduanya. Satu persatu nama wisudawan dan wisudawati yang disebutkan tampil ke depan, Syifa tercekat saat lelaki itu maju. Wajahnya makin putih, tubuhnya tetap kurus dan tegap, lalu Syifa membuang pandangannya ke bawah, ke arah kakinya yang terbalut sepatu putih.

Saat acara selesai, Syifa memeluk satu persatu sahabat wanitanya. Mereka berfoto berkali-kali di sudut ruangan untuk mengabadikan momen kebersamaan untuk terakhir kali. Syifa meremas tangan Meridian dengan kuatnya saat ia melihat lelaki itu berjalan ke arahnya. Lelaki itu mengenggam seikat besar bunga gunung, yang sekarang Syifa tahu namanya bunga edelweiss, lalu membaginya menjadi dua. Ia melilitkan tali wol berwarna merah jambu pada bunga itu. Entah kenapa lelaki itu melakukannya di jarak yang terjangkau oleh pandangan Syifa dan Meridian. Ia sama sekali tak berusaha menjauh dari hadapan dua wanita itu. Setelah selesai mengikat dua bagian edelweiss, lelaki itu berjalan makin dekat ke arah Syifa dan Meridian. Tiba-tiba ia menyodorkan seikat bunga pada Syifa, sementara ikatan bunga yang lain digenggam di tangan kirinya. Syifa mengangkat wajahnya, ia menatap lelaki yang ada di hadapannya sejenak.

“Untukku…?”, tanya Syifa gemetar.

Tak ada jawaban. Lelaki itu tetap memandang ke bawah tanpa melihat Syifa sedikitpun. Akhirnya ia meraih bunga itu dengan segenap kekuatan yang berhasil dikumpulkannya. Lelaki itu langsung berbalik tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya. Syifa menatap punggung lelaki itu menjauh dari hadapannya, air matanya sudah tak terbendung lagi. Meridian memeluk erat Syifa.

“Kudengar Zulfikar akan pergi di Manado…”

Syifa meninggalkan ruang wisuda dengan perasaan tak menentu. Digenggamnya edelweiss yang mungkin berasal dari Gunung Gede itu. Syifa berusaha meminimalkan berbagai kemungkinan yang muncul dari hatinya tentang lelaki itu, mungkin lelaki itu ingin mengucapkan terima kasih karena Syifa membantunya membuat proposal kegiatan outbond kampus waktu itu. Meskipun Syifa tahu mata lelaki itu terlihat merah saat tadi dia berbalik meninggalkan Syifa.

*******

Syifa berjalan menyusuri trotoar, sesekali ia menoleh ke belakang menatap jalanan aspal. Edelweiss yang ia temukan di dekat sepatunya terus diremasnya. Sebenarnya ia tak mau berharap dan merasa berharap. Tapi sekarang denyut jantungnya seolah membangkitkan apa yang selama ini terkubur dalam dirinya. Tanpa terasa air matanya meleleh, entah sudah berapa lama Syifa tidak pernah melakukan hal itu. Ketawakkalannya pada Sang Illahi Rabbi membuat ia menyerahkan seluruh urusan hidup pada Sang Pencipta. Semua hal mengenai lelaki itu, Muhammad Zulfikar, telah diserahkannya pada Penggenggam Hatinya, Allah SWT. Sejak hari dimana lelaki itu berangkat ke Manado untuk berdakwah, Syifa telah mengazamkan tekadnya untuk tak lagi memikirkan itu. Hari-harinya ia lalui dengan ketaatannya yang makin menebal pada Allah. Ia simpan dengan rapi memori tentang seorang Muhammad Zulfikar di kotak hatinya, dan ia tutup rapat-rapat. Kesibukan Syifa mengkaji islam dan berdakwah membuatnya tak lagi punya kesempatan untuk merogoh apalagi membuka apa yang tersimpan di sudut hatinya itu. Namun pesan singkat dari Meridian, sahabatnya pagi ini membuat Syifa mau tak mau membuka memorinya.

“Salam. Ukhti sudah tujuh tahun sejak kita lulus kuliah, apalagi yang kau tunggu? Aku sudah punya dua orang mujahid dan seorang mujahidah dari rahimku. Usiamu sudah menginjak dua puluh Sembilan,  tidakkah kau ingin menggenapkan dienmu?”

“Waalaikumsalam. Belum ada yang tepat untukku ya ukhti kabir.. Aku menyerahkan urusan ini sama seperti aku menyerahkan urusan rizki dan ajalku…”

“Karena ikhwan yang satu itukah? Apa kecintaanmu padanya telah sedemikian kuat hingga kau menolak delapan lelaki yang berusaha melamarmu?”

Syifa hanya terdiam, ia berusaha meraba hatinya lebih dalam. Kedelapan lelaki yang datang melamarnya memang ia tolak, karena seperti itulah jawaban yang diberikan oleh Allah selepas istikharahnya. Syifa bergegas membuka lemarinya, dibukanya laci paling bawah. Ia melihat kotak biru itu masih ada di sana. Dibukanya perlahan, seikat edelweiss yang diberikan oleh lelaki itu masih tersimpan di dalamnya. Kering memang, tapi entah kenapa Syifa melihat bunga itu tak ubahnya seperti edelweiss yang Zulfikar berikan tanpa kata-kata tujuh tahun lalu. Syifa beristighfar, ia sadar tak seharusnya ia memikirkan lelaki yang bukan mahramnya itu. Syifa segera memasukkan bunga itu ke dalam kotaknya, ia tak mau hanyut dalam perasaan yang tak menentu.

Sekarang Syifa masih tertunduk, kakinya melangkah terseok menuju rumah melintasi jalanan yang masih basah karena hujan. Mahkota dari edelweiss yang ada di tangannya berjatuhan sepanjang jalan, karena ia terlalu kuat meremas. Sungguh ia ingin mengelak semua ini. Untuk apa lelaki itu datang, tidakkah ia menemukan mujahidah di kota pinggiran Laut Bunaken itu?  Syifa merebahkan badannya yang letih di atas kasur, hatinya terasa jauh lebih penat. Acara yang diadakannya sore tadi di Masjid Ar-Ridwan sukses, sebagian mahasiswi itu itu telah siap dibina, tapi Syifa enggan menyusun strategi dakwah seperti biasanya. Ia jatuh tertidur setelah tiga jam matanya tak bisa dipejamkan.

Syifa terbangun oleh raungan telepon genggamnya. Ia memicingkan mata sebentar, lamat-lamat terdengar suara adzan shubuh. Dibukanya pesan yang datang, ternyata dari Umi Habibah, musyrifahnya sekarang,

“Assalamualaikum. Syifa sayang, siang ini bisa datang ke rumah? Kalau bisa tolong sekalian bawa biodatamu. Seorang ikhwan yang baru datang dari Manado meminta Syifa menjadi istrinya semalam. Dia bilang Syifa mengenalnya. Bisa datang kan?”

Entah apa yang Syifa rasakan sekarang, yang jelas ia menangis deras. Tapi ia sendiri bingung, untuk perasaan yang manakah air matanya keluar ? Senang, kaget, syukur, tertegun, terharu, sedih, atau apa ? Syifa tak ingin menjawabnya. Ia biarkan dirinya larut dalam sujud dan doa di atas sajadah pagi itu…

Sebait Cinta Dalam GenggamanNYA

07 Nov 2010 Leave a Comment

by penarevolusi in Cerpen

i
4 Votes

Quantcast

Kami tak pernah sadar bahwa sebenarnya Allah telah mengikat hati kami jauh sebelum kehidupan ini ada. Benar-benar tak sadar sampai aku bertemu dengannya pada suatu sore yang berkalut gerimis di sebuah halte busway. Keadaan kami sangat berbeda dengan pertemuan-pertemuan kami di masa SMA dulu. Aku tidak memandangnya dengan tatapan kebencian seperti dulu, mungkin karena sejak hari kelulusan sekolah ia sering hadir dalam pikiranku. Aku juga tidak punya nafsu untuk mengacak-acak rambutnya atau mencakar wajahnya, mungkin karena hatiku dipenuhi penyesalan atas sikap diamku melihat kepergiannya. Juga tidak ada rasa dendam atau kekesalan meski dulu daftar sikap jahatnya padaku sudah teramat panjang, mungkin karena rasa dendam itu telah berubah menjadi bulir perasaan indah yang sulit kuungkapkan. Sungguh aku berdiri membeku di hadapannya. Jarak kami cukup jauh, tapi aku melihatnya. Tidak ada hal yang seharusnya bisa membuatku mengenalinya, tapi aku tau itu dia. Aku tau bahwa pria yang duduk manis di kursi tunggu halte busway dan terpisah 10 meter dariku itu adalah Seol Jeong Woo. Teman sekaligus musuh besarku di masa SMA. Pria keturunan Korea itu menoleh, pandangannya terdiam saat berada di arahku. Dan saat itulah mata kami bertemu…

****

Pak Edi memanggilku dengan suara parau menahan marah, “Ratu, kesini kau!! Apa pula maksud tulisan di kertas ujianmu hah?? Berani kali anak kici macam kau menulis ini!!”

Dengan gemetaran aku menghampiri Pak Edi ke mejanya, aku benar-benar tak tau kenapa ia begitu marah padaku. Kelas hening, aku rasa teman-temanku ikut menahan nafas menunggu hukuman apa yang bakal ditimpakan orang Batak itu padaku. Pak Edi segera menyodorkan kertas ujian milikku. Dan aku cuma bisa melongo melihat tulisan di halaman terakhir kertas ujianku.

“Bulu hidung Bapak ini mirip banget kaya kain pel di rumahku, ah salah, mirip akar beringin yang umurnya udah ratusan tahun. Bulu ketek Bapak juga kaya hutan hujan  tropis di Kalimantan. Haha…”

Belum sempat aku menjelaskan, Pak Edi sudah menjatuhkan vonis untukku. “Kau yang selesaikan kerjaan tukang cat itu. Tembok depan kelas 1-1 sampai 1-7 kau yang cat, nanti biar kuberhentikan tukang-tukang itu. Mengerti kau Ratu?!!!” Ia menggebrak meja dan langsung meninggalkan kelas.

Darahku benar-benar naik semua ke kepala, aku tau siapa biang keroknya. Dan benar dugaanku, saat kubalikkan badan aku melihat Jeong Woo terpingkal-pingkal di sudut kelas sambil memegangi perutnya. Aku benar-benar ingin mencakar mukanya, tapi ternyata Pak Edi sudah ada di depan pintu kelas, lengkap dengan kaleng cat di tangannya!!!

Aku sebenarnya tak tau pasti apa sebabnya Jeong Woo dan aku bermusuhan. Sejak berkenalan di kelas satu hingga kini kelas tiga, kami selalu punya alasan untuk bertengkar dan mencari akal untuk saling menjatuhkan. Awalnya kami hanya saling ejek tak penting, tapi lama-kelamaan kualitas dan kuantitas pertengkaran kami meningkat pesat. Aku sangat-sangat tidak menyukai caranya yang arogan, sok kaya, sok keren, dan selalu menghinaku. Kuhentakkan kuas cat dengan kasar ke tembok. Aku membayangkan tembok itu adalah Jeong Woo, agar aku bisa puas mengacak-acak wajahnya.

“Annyeong haseyo, onni?? Kita impas ya, ini balasan karena kemaren kamu sudah bikin sepedaku kempes. Bisa bayangin gak, kemaren aku jalan 4 km! gak ada yang bisa jemput aku dan ditambah lagi aku gak punya duit untuk naek angkot!!”

Kulebarkan senyum sinisku padanya, “Pergi gak!!? Mau mandi pake cat haa!!”

Ia berlari sambil menyandang tas bututnya dan hilang setelah melewati taman sekolah. Aku menghela nafas dalam-dalam tapi aku harus memegang janjiku bahwa ini akan menjadi pertengkaran terakhir kami. Kemaren sore aku sudah berjanji pada Allah dan diriku sendiri bahwa aku tidak akan menjadi seorang pendendam. Kuingat terus materi-materi dari Mbak Diana yang sejak lima bulan lalu menjadi guru ngajiku. Sabar, sabar.. aku harus bisa memancarkan mabda islam dari diriku. Aku harus berusaha cuek dengan Jeong Woo, sekaligus belajar mendakwahkan betapa mulianya ajaran islam pada penganut nasrani seperti dia. Aku pasti bisa Ya Allah..

Aku pulang dengan langkah terseok kelelahan. Kuselesaikan pekerjaan plus dari Pak Edi dengan semua tenaga yang kumiliki. Sekarang sudah jam sembilan, itu artinya aku harus jalan kaki sampai rumah. Di kota kecil seperti Purwokerto ini, angkot hanya beroperasi sampai jam lima sore. Jadi aku mau tidak mau aku harus menjaga kakiku agar tetap melangkah sampai ke rumah. Aku sangat terkejut saat seorang ibu menggenggamkan uang lima ribuan pada tanganku. Ia tersenyum dan pergi. Ya Allah,, kerudung dan seragam sekolahku yang penuh bekas cat cukup membuat penampilanku mirip pengemis jalanan. Jeong Woo………..!!!

Jeong Woo menjegal kakiku dan membuatku terjatuh saat esoknya kami berpapasan di gerbang sekolah. Ia bersiul dan melenggang santai meninggalkan aku.

“Kalo jalan ati-ati ya…”, ejeknya sambil tertawa.

Aku hanya bisa menggemeretakkan gigi-gigiku menahan amarah. Kalau saja aku tidak ingat janjiku pada Allah, aku pasti sudah berlari dan menarik kakinya agar ia terjatuh seperti aku. Tapi syukurlah, Allah membuatku tetap mengingat janji itu.

Seharian ini aku berdiam diri di kelas, sibuk mengalihkan amarahku pada soal kimia yang susahnya setengah idup! Jeong Woo sudah berkokok dan mengoceh macam-macam tentang aku. Sebenarnya telingaku sudah teramat jenuh mendengarnya dan tanganku terasa gatal untuk melemparkan sepatu ke mulutnya agar ia berhenti bicara. Tapi aku mencukupkannya sebatas keinginan dalam hati. Aku segera berlari ke musholla dan sholat sunnah dua rakaat di sana. Aku memohon supaya Allah menambahkan kesabaran ke dalam hatiku. Tak lupa aku mendoakan Jeong Woo agar hatinya bisa melunak terhadapku. Dan kulalui hari itu dengan aman karena aku tidak mengepalkan tinjuku ke pipi Jeong Woo, tidak mengejeknya ‘ayam sayur’, tidak mengempiskan ban sepedanya, tidak menyembunyikan bola basketnya, tidak merebut jatah makan siangnya di kantin, dan tentu saja tidak membalas kejahilannya kemarin. Alhamdulillah…

Aku tau Jeong Woo mengamatiku sejak 10 menit yang lalu, dia berkali-kali menggelengkan kepalanya sambil terus memperhatikan sikapku. Sampai akhirnya mulutnya terbuka, “Unni..!!!”

Aku pura-pura tidak mendengar panggilannya. “Yyya, Onni !!! Wae?? Abis nelan kura-kura ya?? Apa obat wasirnya udah abis??”

Aku memandangnya sejenak sambil tersenyum, lalu kembali asyik dengan buku biologiku.

“Pabbo jongmal!!”, Jeong Woo meninggalkanku dengan keheranan. Mungkin dia hampir gila karena sudah sebulan ini aku samasekali tidak menanggapi ulahnya, dan ia tak lagi punya jurus baru untuk menjahiliku. Saat dengan sengaja ia menumpahkan isi perut kodok ke rokku di ruang praktek biologi, aku segera membersihkannya tanpa berkata apa-apa. Saat hapeku berdering kencang pada jam pelajaran dan aku dimarahi Bu Linda, aku menerimanya juga tanpa berkata-kata. Padahal aku tau Jeong Woo yang merubah profil hapeku saat kutinggal di kelas untuk makan siang. Dia juga mengacaukan tulisan pidatoku untuk English speech contest, hingga aku terpaksa hanya tidur dua jam malam harinya untuk menyalin tulisan itu. Tapi kutemui dia keesokan harinya dengan raut wajah santai seperti tak terjadi apa-apa. Sebenarnya aku selalu terkena darah tinggi tiap kali dia berbuat seperti itu. Tapi aku tidak mau membalasnya. Aku berusaha menahannya. Tak ada yang tau sudah berapa puluh pensil yang kupatahkan untuk mengalihkan amarahku pada Jeong Woo. Tidak ada yang tau bahwa aku makan 3X lebih banyak dari biasanya untuk menghilangkan kekesalanku padanya. Sungguh hanya Allah dan Mbak Diana yang tau betapa aku berusaha untuk bersabar…

Saat perpisahan sekolah kami pun tiba. Pengumuman minggu lalu menyatakan tidak ada yang tidak lulus. Seluruh siswa SMU N 1 Purwokerto angkatan 2005 lulus! Alhamdulillah. Jadi kami bisa menghadiri perpisahan ini dengan lega. Aku mengantar ayah dan ibuku ke bangku wali murid. Aku melihat Jeong Woo juga tengah mengajak papa mamanya ke situ. Sejenak kuamati orang tua Jeong Woo, bahkan aku sangat senang melihat mamanya mengenakan Hanbok, pakaian tradisional wanita Korea. Aku baru tahu bahwa papa Jeong Woo adalah pengusaha besar Korea yang punya bisnis sukses di beberapa kota di Indonesia. Ah Jeong Woo, gayanya yang urakan sama sekali membuatku tak tahu bahwa sebenarnya dia cukup mampu untuk berpenampilan lebih baik. Aku hanya tersenyum geli, selama ini aku selalu berpikir Jeong Woo berlagak sok kaya, ternyata dia memang kaya! Untunglah empat bulan ini aku berhasil untuk tidak pernah membalas kenakalannya. Malah Jeong Woo terlihat lesu akhir-akhir ini, dan siasat liciknya untuk mengerjaiku tiba-tiba menguap entah kemana. Kami tidak bertengkar tapi juga tidak saling sapa. Hanya kebisuan dan tatapan dingin yang menjadi kebiasaan dalam tiap pertemuan kami di hari-hari terakhir sekolah.

Aku mengamati Jeong Woo yang tersenyum dan asyik berbincang dengan orang tuanya. Tapi segera kualihkan pandanganku saat beberapa detik kemudian ia berbalik memandangku. Teman-temanku menangis saat acara perpisahan selesai. Tak terkecuali aku. Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Tiga tahun cukup untuk menoreh sekian banyak kenangan yang bisa membuat kita tertawa dan sedih ketika kita mengingatnya suatu hari nanti. Dan saat inilah masa tiga tahun SMAku berakhir. Aku akan melanjutkannya dengan tiga tahun yang lain, yaitu masa pendidikanku di sebuah perguruan tinggi ikatan dinas di Jakarta. Begitu juga teman-temanku. Mereka pasti akan melewati tahun-tahun lain dalam kehidupan mereka. Aku hanya berdoa semoga tiap-tiap detik yang kami lewati bisa dinilai ibadah oleh Allah.

Jeong Woo datang menghampiri saat aku sedang menangis dalam pelukan teman-temanku. Aku menatapnya sejenak.

“Miannae Ratu-ssi…untuk semuanya.  Modu nae silsuleul yongseo..”, ucapnya sambil tertunduk.

Mungkin aku salah dengar atau apa, tapi aku merasa Jeong Woo menangis sesenggukan.

“Ratu, terimakasih untuk empat bulan kesabaranmu. Gomawoyo…”

Jeong Woo segera berbalik pergi. Dan entah kenapa aku juga merasakan buliran hangat mengalir di pipiku. Baru kali ini aku merasa menyesal pada Jeong Woo karena tidak menghabiskan masa tiga tahun ini dalam persahabatan yang hangat dengannya. Tapi aku tidak berusaha memanggil Jeong Woo. Kubiarkan ia pergi. Beberapa bulan ini aku berusaha menahan amarahku padanya dengan diam, maka saat ini aku juga harus membiarkan diriku diam melihat kepergiannya.

“Jeong Woo…terimakasih telah membuatku punya alasan untuk bersabar. Kamsahamnida. Annyeong hikaseyo, chingu…”, bisikku dalam hati.

****

Aku menggenggam amplop putih yang di diberikan oleh Mbak Hanif, guru ngajiku. Huff, siapa lagi. Ini biodata ikhwan keempat yang menghampiriku dalam dua minggu ini. Laporan job training, bisnis jilbab, jadwal kajian, dan les privat sebenarnya membuatku tak sempat untuk memikirkan itu. Bukan tak mau menikah, tapi aku merasa belum saatnya. Jadi kubiarkan amplop itu dalam tasku. Nanti malam aku akan istikharah, batinku..

Entah kenapa aku tak ingin membuka isi amplop itu, ini di luar kebiasaan. Tapi aku benar-benar tidak mau melihat dulu seperti apa ikhwan yang mencalonkan dirinya menjadi suamiku. Aku bercengkrama dengan Rabbku dalam istikharah panjangku. Jika ia yang terbaik dekatkan kami, jika tidak maka jauhkanlah Ya Rabb..Amiin. Aku terlelap usai istikharah. Aku melihat Jeong Woo di sana. Ya! Dia duduk di halte busway. Saat melihatku, ia segera berlari ke arahku sambil menangis memohon, “Tolong jangan terlalu lama. Waktuku tidak banyak…”

Aku bangun dengan nafas tersengal, aku sangat takut. Mimpi macam itu!! Hampir mirip kejadian beberapa minggu lalu saat aku bertemu Jeong Woo di halte busway. Hanya saja Jeong Woo tidak menangis seperti dalam mimpi. Dia hanya tersenyum saat menyadari ada aku di sana. Aku tidak sempat berkata apa-apa karena busway yang kutunggu sudah datang. Jeong Woo berlari menyusulku, tapi aku hanya sempat melihat wajahnya yang pucat saat pintu busway tertutup. Aku tersenyum padanya dan pertemuan pertama kami setelah empat tahun berakhir di situ. Aku minta persetujuan Allah tentang ikhwan si pengirim biodata, tapi kenapa justru Seol Jeong Woo yang ada di mimpiku ?? Aku segera beristighfar karena aku takut setan menjadi penyusup di antara istikharahku.

Dengan sedikit malas kukenakan jilbabku yang berwarna hijau tosca, kupadukan dengan kerudung bercorak kupu-kupu dengan warna senada. Kulihat lagi jadwalku minggu ini. Setor pesanan jilbab, udah. Ngerjain laporan kantor, udah. Bikin proposal seminar remaja, udah. Beli kain ke Cipadu, udah. Ngisi kajian, udah. Alhamdulillah semua sudah selesai, jadi sekarang aku memang punya waktu untuk baca buku di toko Granatdia. Aku sebenarnya lebih menginginkan badanku terbaring di kasur, tapi jika itu terjadi maka kegelisahanku tidak akan hilang. Tadi pagi merupakan kali ketiga aku mengalami mimpi yang hampir sama. Aku bermimpi Jeong Woo sambil menangis memohon, hanya saja tempat dan keadaannya berbeda dengan mimpi pertama dan kedua.

Sudah kususuri puluhan rak buku di toko itu, tapi tidak ada satu bukupun yang membuatku tertarik untuk kubaca. Entah kenapa hari ini jantungku berdetak jauh lebih cepat, membuatku nafasku terasa berat. Tiba-tiba teleponku berdering. Mbak Hanif..

“Assalammua’alaikum. Ada apa Mbak?”

“Wa’alaikumsalam. Ratu lagi dimana? Lagi sibuk nggak ??”, suara Mbak Hanif terdengar terburu-buru.

“Aku lagi di toko buku, Mbak. Gak lagi sibuk kok, ada apa Mbak? Kok kaya lagi buru-buru?”

Terdengar Mbak Hanif menarik nafas panjang. “Ikhwan yang terakhir gimana? Ratu cocok gak, udah istikharah belum?”

“Oohh.. aku malah belum buka amplopnya sama sekali Mbak. Tapi udah istikharah. Cuma isyaratnya aneh Mbak, gak sesuai sama doaku”

“Gak sesuai gimana maksudnya?”

“Aku mimpi tiga kali, tapi yang aku mimpiin malah teman SMAku yang nasrani.”

“Apa??!! Ratu tolong cepet ke Rumah Sakit Indrayana!”

Mbak Hanif menutup telpon tanpa memberiku kesempatan untuk mengucapkan salam. Tapi mendengar nada suaranya yang tergesa-gesa, aku segera berlari keluar toko dan memanggil taksi untuk melesat ke Rumah Sakit. Mbak Hanif yang sudah menungguku di depan pintu masuk segera mengajakku berlari ke dalam. Aku makin bingung dengan sikap pembimbingku ini. Di depan kamar nomor 38, dia menarik lenganku untuk masuk ke dalam. Kulihat suami mbak Hanif, Ustadz Jazuli dan istrinya, dan juga dokter dengan seorang perawat di kamar itu. Aku makin bingung dengan keadaan ini.

Mbak Hanif membimbingku mendekati ranjang pasien. Dan aku terhenyak saat melihat siapa yang terbaring di sana. Bibirnya kering, wajahnya pias, kulitnya yang putih terlihat sangat pucat, infus dan tabung oksigen melekat di tubuhnya. Laki-laki itu membuka matanya, dan air matanya langsung meleleh saat melihatku. Aku tak bisa berkata apa-apa, bahkan untuk sebuah kata sapaan. Bibirku seolah terkunci rapat, sama seperti keadaan perpisahan kami empat tahun lalu.

Laki-laki itu membuka mulutnya, “Saya menunggu ukhti, dua tahun ini saya terus menunggu. Kenapa ukhti tidak cepat datang?, ia menarik nafasnya perlahan, “Saya selalu berdoa agar Allah berkenan memberikan saya kesempatan untuk berada di samping ukhti.”

Aku makin tenggelam dalam tangisku, bermacam perasaan benar-benar memadu dan bergejolak dalam pikiran. Aku tidak ingin bertanya, aku tidak ingin berkata-kata. Kubiarkan diriku mengambang dalam kebingungan seperti yang kurasakan empat tahun terakhir ini. Kupandangi lekat wajah pria yang pernah sangat kubenci sekian tahun lalu, namun terkadang juga muncul sebagai bayangan halus dan menjadi pemicu keinginan tak wajar dalam hatiku. Mungkin baru sekarang kusadari bahwa selama ini kami tidak benar-benar berpisah. Mungkin kami memang tak pernah bertemu, tapi ada ikatan yang senantiasa membuat kami merasa dekat. Aku pernah menganggap diriku hampir gila, karena terkadang kelebat sosok laki-laki ini hadir dalam pikiranku. Dan sekarang aku tau, ternyata ikatan hati kamilah yang selalu membuatku merasa seperti itu. Hatiku gerimis, entah kenapa tiba-tiba perasaanku dipenuhi rasa cinta untuknya.

Sesaat kemudian laki-laki itu melanjutkan perkataannya. Suaranya sangat lemah, aku berusaha menangkap kata-kata dari bibirnya, “Ana Uhibbuki fillah ya ukhti… Jika tidak sekarang, berarti Allah telah menyiapkan waktu yang lebih baik untuk kita.”

Aku hampir tak mampu mendengarnya, tapi lama-kelamaan suara itu bergema keras di telingaku. Menjadikannya sebagai bait cinta terindah yang pernah kudengar. Beberapa detik kemudian semua yang ada di ruangan segera mengucap Innalillahi wa Inna ilaihi roji’un…

Aku masih terpaku. Semuanya seperti mimpi. Aku bahkan tidak bisa merasakan kakiku. Perlahan kubuka amplop yang diberikan Mbak Hanif padaku dua minggu lalu. Amplop itu terus berada di tasku tanpa pernah kubuka.

BIODATA

Assalammu’alaikum. Izinkan saya memperkenalkan diri..

Nama            : Seol Jeong Woo / Husam Al Farisi (sejak dua tahun lalu setelah memeluk islam)

TTL                 : Busan, Korea Selatan, 17 April 1986

Kekurangan    : tidak terhitung

Kelebihan        : tidak ada

Kriteria istri     : Insya Allah semua kriteria istri sholihah ada pada ukhti Leonaratu

Motivasi menikah : menggenapkan dien sebelum penyakit Thalasemmia mayor yang saya derita menghantarkan saya pada Illahi Rabbi

 

Afwan ukhti, biodata saya sangat singkat. Saya tidak punya cukup kekuatan untuk menulis lebih banyak. Lagipula saya yakin ukhti sudah sangat mengenal saya, karena kita pernah melalui tiga tahun kebersamaan di SMU N 1 Purwokerto. Saya tunggu jawaban ukhti secepatnya.

Wassalammu’alaikum.

 

Penulis biodata itu telah terbaring kaku di hadapanku. Sekarang baru kusadari apa arti mimpi-mimpiku. Aku hanya bisa beristighfar sebanyak-banyaknya untuk menepis penyesalanku yang tiada terkira….

semoga bermanfaat

di post oleh anha leehongki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s